Tentang Rentang Kisah
Kita belum tentu mendapatkan apa yang kita mau. Ketika itu
terjadi, kita harus bisa menerima dan menghadapinya dengan bijaksana atau nggak
akan pernah belajar apa-apa dari hidup ini. (hal. 51)
Kutipan di atas merupakan salah satu kutipan yang aku suka dari
buku Rentang Kisah miliknya Gitasav
ini. Atau lebih tepatnya; aku suka kutipan itu karena kayaknya lagi ngalamin
apa yang Gitasav tulis di part Why Can’t
I Just Get What I Want?
Why Cant’t I Just Get What I Want? Kenapa sih aku nggak bisa ngedapetin apa yang aku mau? Kenapa sih susah banget
buat ngedapetin apa yang aku mau? Kenapa sih ada aja rintangan yang mesti
dihadapi untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan?
Sebagai orang yang membiarkan hidupnya let it flow aja, cerita Gitasav ini sangat-sangat mewakili how’s my life run right now. Timeline yang udah dibuat harus dirombak
total perkara ada aja yang nggak bisa diajak lari bareng. Dan yang paling bikin
kesel adalah bukan kuasa aku untuk kapan harus nginjak gas dan kapan harus
nginjak rem padahal that’s all is about
me.
Dan jawaban atas kekesalan aku ini sedikit terjawab dari
paragraf yang ditulis Gita.
Untuk kali pertama aku belajar caranya ikhlas dan
berprasangka baik atas jalan yang Allah kasih. Mungkin ini cara Dia untuk
mendewasakan aku. If so, then I’ve
learned my lesson. (hal 49)
Setiap buku emang punya daya magic-nya sendiri buat tiap-tiap pembaca. Termasuk buku Rentang Kisah ini. Kali pertama aku
membaca buku ini, sekitar dua tahun lalu, rasanya masih biasa aja membaca
kalimat per kalimat yang ditulis Gita. Tapi untuk kali kedua ini sangat
berbeda. Beberapa part dalam buku ini
relate banget sama yang sedang aku
alami. Rasanya ngena banget.
Buku Rentang Kisah
ini tidak hanya menceritakan masalah-masalah hidup yang dialami Gita yang wich is juga dialami manusia
seumurannya, tetapi Gita juga memberikan what
in behind dari masalah-masalah yang dialaminya.
Aku akhirnya paham, terkadang bukan tugas manusia untuk
merencanakan hidup terlalu jauh karena sebenarnya, tugas manusia hanyalah
berusaha dan berdoa. Sisanya serahkan kepada Yang Maha Kuasa. (hal. 75)

Komentar
Posting Komentar