Benci
Bagian 1
Rasa benci itu kini
telah menumpuk dalam hati. Menciptakan sekat antara dua orang yang dulunya
pernah berbagi kasih. Sekelilingnya tak ada yang tahu muasal keduanya bisa
sebegitunya saling membenci. Nampaknya, kebersamaan yang selama ini mereka
tunjukkan bisa begitu saja menguap lantaran ego yang lebih menguat diantara
keduanya.
“Ris, sendirian aja? Septa
mana?” Tanya Sindi dengan mulut berhuah-huah kepanasan karena cilok Mang Udin
yang super ramai dikerubuti cewek-cewek setiap jam pulang sekolah seperti sekarang
ini.
“Nggak tau.” Jawab Risa
malas.
“Lah, biasanya kan
kalian berdua terus. Berangkat bareng, ke kantin bareng, belajar bareng meski
beda kelas, ke WC aja barengan juga lo berdua. Udah kaya kakak adek tau nggak.
Eh, sodara kembar malah.”
Aku tak mendengarkan
apa yang dikatakan Sindi. Perhatianku tertuju pada orang yang baru saja lewat
di depanku. Dua remaja berseragam sama denganku yang tengah berboncengan di
tengah teriknya matahari sore.
“Ris, diem aja?”
Aku masih terus memperhatikan
kedua sosok itu, hingga akhirnya tubuhnya tak terlihat lagi. Menghilang di
balik tikungan dengan bangunan-bangunan tinggi di kanan-kirinya.
Rasa benci dari dalam
hati Risa bertambah ketika baru saja dilihatnya sahabat yang dulu pernah
kemana-mana bersamanya kini harus berada di sisi orang lain. Tak benar juga
bila disebut orang lain. Yang jelas keduanya pernah sama-sama berada di sisi
Risa sebelum rasa benci itu tumbuh subur dalam hati Risa pun Septa, mungkin
juga pada hati orang ketiganya.
“Woiii Risss.
Ngelamunin apa sih lo?” Teriak Sindi persis di telinga kanan Risa.
“Apaan sih lo, Sin?
Kuping gue masih sehat kali. Nggak perlu lo teriakin, gue juga udah denger.”
“Sori, Ris sori. Lah,
lo si dari tadi gue tanyain diem aja. Ngelamunin apa sih?”
“Ngaak ada.”
“Hmm. Naik apa lo
pulangnya?”
“Naik bus, gue mau ke
toko buku dulu.”
“Ikut dong, Ris.”
“Aduhhh, lo mau ngapain
sih? Gue lagi pengen sendiri nih.”
“Mau beli buku lah.
Ngelengkapin koleksi komik gue. Katanya si, edisi yang terbaru udah beredar di
toko buku.“
“Nggak bisa besok-besok
apa?”
“Kan mumpung ada
temennya. Gue males kalo harus ke sana sedirian. Kaya orang ilang tau nggak.”
“Masalahnya gue
sekarang lagi pengen sendiri. Gue lagi pegen nikmatin hidup gue yang gue udah
lupa gimana caranya.”
“Elah, gitu banget si lo.
Plisss lahhhh Ris.”
“Hmm, iya deh iya. Tapi
janji lo nggak boleh berisik selama di perjalanan. Udah diem aja.”
“Iya gue janji.”
Sindi adalah teman
sekelas Risa, mereka berdua dekat karena keduanya duduk bersebelahan. Mereka
juga sering bercerita banyak hal. Akan tetapi, dekatnya Risa dengan Sindi tak
seperti dekanya Risa dengan Septa. Masih ada hal yang tidak bisa Risa bagi
dengan Sindi. Sedangkan Septa, ia tahu segalanya tentang Risa. Tak ada satu
cerita pun terlewat untuk Risa dan Septa bicarakan.
***
Sepuluh menit berlalu,
Risa hanya melihat kendaraan yang melintas di depannya tanpa melakukan kegiatan
apapun. Tatapan kosong yang meyiratkan banyak tanya tak akan kentara jika hanya
dilihat sekilas oleh teman-teman lainnya yang juga sedang sama-sama menunggu
bus. Seperti janjinya, Sindi tak berbicara sepatah kata pun sepuluh menit
belakangan. Ia masih sibuk berkutat dengan ciloknya yang tak kunjung habis
meski titik-titik keringat sudah menjamur di ujung hidungnya. Bibirnya kian
memerah akibat sambal yang terlalu pedas.
“Ris, bawa air nggak.
Air gue abis?” Tanya Sindi setelah menyerah dengan pedasnya cilok Mang Udin.
“Bawa. Ambil sendiri
nih.” Kata Risa dengan sedikit menggeser tubuhnya ke samping agar Sindi bisa
mengambil air minum di dalam tasnya.
Dengan sekali teguk,
setengah botol air milik Risa habis tak menyisakan setetes pun.
“Gila lo, Sin. air gue
lo abisin?”
“Gila Ris, cabe di
pasar lagi murah apa ya? Sambel ciloknya Mang Udin pedesnya minta ampun. Nggak
kuat gue. Lo masih ada air lagi nggak?”
“Ya nggak lah. Lo pikir
gue tukang galon. Rasain tuh pedesnya. Hahaha.”
“Sialan lo Ris. Pedes
banget nih.”
“Tuh busnya datang.
Udah diem. Janjinya lo nggak boleh berisik kalo mau ikut gue.”
“Gimana mau berisik.
Ngomong aja gue masih kesusahan.”
“Hahaha. Bisa aja lo.”
Sindi memang selalu
bisa membuat Risa terlihat baik-baik saja. Tingkahnya yang polos, sikapnya yang
bodo amat dengan sekitar, dan bicaranya yang kadang ceplas-ceplos bisa seketika
menutupi mendung yang kadang tanpa sebab menghiasi wajah Risa. Seperti sekarang
ini, meski tak tahu pastinya, Sindi sebenarnya tahu ada sesuatu yang sedang
terjadi pada teman sebangkunya itu.
Seminggu terakhir,
Sindi diam-diam memperhatikan perubahan tingkah laku Risa. Risa yang ramah,
Risa yang aktif di kelas, Risa yang tiap pagi terlihat sangat segar, kini
menghilang dari pandangan Sindi.
Meski begitu, Sindi tak
banyak bertanya. Sebab yang perlu Sindi lakukan hanyalah memberikan penghiburan
kepada Risa untuk kembali menghadirkan sosok Risa seperti biasanya. Bukan memaksa
Risa untuk bercerita, membuka luka yang jika disentuh akan sangat terasa perih.
Sindi paham, beberapa luka memang tidak harus dibagi. Baginya, luka yang
dipaksa untuk dibagi justru dapat membuat luka itu semakin perih. Beberapa luka
memang hanya dapat disimpan. Memang terlihat menyakitkan untuk si penderita.
Tapi itu bisa jadi jalan terbaik untuk segera menyembuhkan luka itu.
***
Bagian 2
Bus yang Risa tumpangi
terasa sangat sesak. Dipenuhi remaja tanggung yang baru saja pulang dari
sekolah. Terlihat dari seragam yang dikenakannya, sebagian dari mereka adalah
teman satu sekolah dengan Risa. Sebagian lagi berasal dari sekolah sebelah yang
letaknya berada di belakang sekolah Risa.
Risa dan Sindi tak
mendapat tempat duduk, alhasil mereka berdua harus berdiri selama perjalanan
menuju toko buku. Meski sudah sesak, sopir dan kernet bus terus saja mengangkut
penumpang yang mereka temukan di jalan. Sang kernet teriak-teriak menyuruh
penumpangnya untuk terus bergeser, menciptakan ruang untuk penumpang baru.
Sindi terus saja
menggerutu tiap kernet menyuruh penumpangnya untuk bergeser, atau tiba-tiba
sopir yang mengerem mendadak entah karena macet, menaikkan ataupun menurunkan
penumpang.
“Dasar kernet bus
maunya cuma dapat untung tanpa mau merhatiin kenyamanan penumpang. Awas aja ya,
gue nggak lagi-lagi mau naik bus ini.”
Selagi Sindi
mengomentari banyak hal, Risa justru hanya diam selama perjalanan. Tak biasanya
Risa seperti itu. Ada banyak tanya yang sebenarnya hendak Sindi ajukan kepada
Risa. Tapi Sindi tahu hal itu tidak mungkin. Ia mencoba mengalihkan perhatian
Risa tapi usahanya sia-sia.
Bus berhenti di kawasan
toko buku saat matahari mulai menebarkan warnanya di langit. Risa dan Sindi
harus berjalan sekitar 100 meter ke depan untuk sampai ke toko buku. Letaknya
berada di ujung jalan yang tidak dilewati bus, makanya Risa dan Sindi harus
berjalan kaki untuk bisa sampai ke sana.
“Akhirnya, gue turun
juga dari bus super menyebalkan itu. Keringat gue kaya abis jogging muterin
komplek 10 kali puteran.” Gerutu Sindi lagi.
Risa hanya diam saja
mendengar ocehannya Sindi. Ia terus berjalan menuju ke toko buku. Rasanya sudah
tak sabar berlama-lama memilih buku, berlama-lama juga membaca di pojokan
sembari menikmati segelas es coklat. Sindi terus mengikuti langkah Risa dengan
tergesa.
Hamparan buku tersaji dengan
sempurna begitu Risa dan Sindi membuka pintu masuk toko buku itu. Buku-buku
keluaran terbaru dari penulis-penulis ternama dan yang menuju ternama mengoda
setiap mata yang mencoba melihatnya. Risa langsung tenggelam di antara rak-rak
bagian novel, sedangkan Sindi langsung melarikan diri mencari komik
kesayangannya di antara rak-rak komik.
Risa memilih-milih buku
yang sedang ingin dibacanya. Pikiranya sedang tidak fokus, hingga ia lama
sekali menentukan pilihannya. Akhirnya pilihannya jatuh pada novel bersampul
hitam milik salah satu penulis muda yang belum begitu terkenal. Risa langsung
membayarnya ke kasir untuk kemudian memesan segelas es coklat dan membawanya ke
kursi pojokan yang selalu menjadi tempat favorit Risa. Memang, membaca buku
dengan ditemani segelas es coklat adalah kebiasaan yang Risa lakukan saat
suasana hatinya sedang kacau, seperti sekarang ini. Bagi Risa, buku dan es
coklat adalah pelarian paling sempurna untuk sembunyi dari karut marut harinya
akibat suasana hati yang tidak baik.
**
Komentar
Posting Komentar