Bagian 1 Rasa benci itu kini telah menumpuk dalam hati. Menciptakan sekat antara dua orang yang dulunya pernah berbagi kasih. Sekelilingnya tak ada yang tahu muasal keduanya bisa sebegitunya saling membenci. Nampaknya, kebersamaan yang selama ini mereka tunjukkan bisa begitu saja menguap lantaran ego yang lebih menguat diantara keduanya. “Ris, sendirian aja? Septa mana?” Tanya Sindi dengan mulut berhuah-huah kepanasan karena cilok Mang Udin yang super ramai dikerubuti cewek-cewek setiap jam pulang sekolah seperti sekarang ini. “Nggak tau.” Jawab Risa malas. “Lah, biasanya kan kalian berdua terus. Berangkat bareng, ke kantin bareng, belajar bareng meski beda kelas, ke WC aja barengan juga lo berdua. Udah kaya kakak adek tau nggak. Eh, sodara kembar malah.” Aku tak mendengarkan apa yang dikatakan Sindi. Perhatianku tertuju pada orang yang baru saja lewat di depanku. Dua remaja berseragam sama denganku yang tengah berboncengan di tengah teriknya matahari sore. “Ris, diem...